tambang.jpg Penulis saat berada di lokasi tambang batubara bawah tanah di Kalsel

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/1 (ANTARA) -Kawasan Propinsi Kalimantan Selatan yang dikenal memiki cadangan bahan tambang melimpah, khususnya batu bara telah menggairahkan berbagai kalangan mengeksploitir bahan galian yang disebut pula sebagai “emas hitam” tersebut.

Bukan saja perusahaan pertambangan skala besar yang berlomba mengeruk bahan tambang yang tak bisa diperbarui tersebut, juga ratusan perusahaan kecil serta individu yang ikut berebut mengambil untung dari usaha “emas hitam” itu.
Perusahaan skala besar yang mengelola tambang batu bara di Kalsel berdasarkan Perjanjian Kerjasama Pengembangan Pertambangan Batu Bara (PKP2KB) ada beberapa buah diantaranya PT. Adaro Indonesia, PT. Arutmin Indonesia, PT. Bantala Coal Mining, dan beberapa lagi.

Sementara perusahaan kecil melalui izin Kuasa Pertambangan (KP) yang diberikan oleh kabupaten/kota menyusul adanya era otonomi daerah yang jumlah perizinnanya ratusan buah. Belum termasuk ratusan perusahaan penambangan tanpa ijin (Peti) yang dilakukan secara kelompok atau perorangan yang sangat menyemarakkan usaha pertambangan batu bara di Kalsel tersebut.

Merebaknya tambang batu bara di “bumi Pangeran Antasari” Kalsel tersebut menimbulkan gairah di bidang ekonomi, dimana devisa terus saja mengalir dari hasil ekspor tambang itu dengan tujuan berbagai negara di dunia.
Catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalsel sekitar 60 persen nilai ekspor non migas asal propinsi tersebut atau sekitar 1,5 miliar Dolar AS per tahun berasal dari ekspor tambang batu bara. Bukan saja untuk ekspor, ternyata hasil tambang batu bara Kalsel tersebut kini diperebutkan pula untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT. PLN (Persero) seperti PLTU Suryalaya Jawa Barat, PLTU Paiton Jawa Timur, dan PLTU Asam-Asam Kalsel sendiri, disamping untuk kebutuhan industri lainnya di tanah air.

Oleh sebab itu, banyak kalangan yang telah mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan hidup mereka secara meteriil setelah memperoleh porsi dari mengelola tambang batu bara tersebut. Tak heran bila dalam suatu wilayah yang tadinya termasuk relatif miskin berubah menjadi kawasan yang kaya raya, seumpamanya saja kawasan Kecamatan Satui dan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Pegaron Kabupaten Banjar, Jorong Kabupaten Tanah Laut, beberapa wilayah di Kabupaten Tapin, Kotabaru, Balangan, dan Kabupaten Tabalong.

Banyak warga yang tadinya hanya sebagai petani atau buruh atau pedagang kecilan serta pegawai negeri sipil (pns) rendahan sekarang berubah menjadi “saudagar kaya”. Tadinya hanya memanggul cangkul sekarang sudah bergaya, memakai mobil mewah Land Cruser, Ford Ranger, BMW, Mercides Bend dan mobil mewah lainnya.
Bahkan sebagian rakyat yang selama ini miskin juga terkena imbasnya dengan meningkatkan perekonomian masyarakat tersebut.</p>
Mengalirnya uang hasil tambang di tengah masyarakat tersebut, masyarakat yang berusaha kecil-kecilan juga ikut berkembang. Begitu banyak buruh tambang serta pengusaha tambang yang tidak pelit berbelanja. Akibatnya dagangan beras. ikan, sayur mayur, serta hasil pertanian milik masyarakat menjadi laku.

Di kawasan Kota Paringin, Kabupaten Balangan, dimana beroperasinya sebuah perusahaan pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia yang berhasil mengeruk tambang sedikitnya 20 juta ton per tahun telah memperkerjakan ribuan karyawan, buruh tambang dan pekerja kantor lainnya.

Begitu pula misalnya di Sungai Danau, ibukota Kecamatan Satui tempat beroperasinya PT. Arutmin Indonesia dengan produksi sudah mencapai 16 juta ton per tahun juga mengerja ribuan buruh dan karyawan.

Para pekerja tambang yang memilkiki uang tersebut berani berbelanja dengan tidak menawar, akibatnya harga berbagai kebutuhan pokok menjadi terdongkrak, harga rumah dan sewa rumah naik, harga tanah melonjak, sedang tingkat keramaian pasar meningkat drastis.

Begitu banyaknya perusahaan tambang besar dan kecil serta individu di Kalsel telah memberikan lapangan kerja yang sangat besar, dimana ribuan orang terserap untuk menjadi buruh tambang, seperti pengemudi alat berat, mekanis, sopir truk, pekerja kantor, serta buruh tambang kasar lainnya.

Sementara rakyat yang memiliki lahan juga banyak yang kaya mendadak, dimana lahan-lahan yang terkena proyek tambang diganti rugi dengan nilai yang mahal.
Sehingga tak heran lahan-lahan yang tadinya tak bertuan kini dipatok oleh orang-orang tertentu, kemudian lahan tersebut dianggap milik mereka dengan berharap lahan itu nantinya terkena proyek tambang lalu meminta ganti rugi.

Dengan perkembangan pertambangan batu bara yang pesat tersebut maka Pemerintah Propinsi (Pemprop) Kalsel optimis perekonomian daerahnya akan terus meningkat, bahkan gubernur setempat, H.M. Sjachriel Darham berani mematok tingkat pertumbuhan ekonomi di propinsi berpenduduk tiga juta jiwa lebih itu bisa enam persen per tahun.

Di balik gemerlapnya hasil yang diperoleh dari pertambangan tersebut ternyata telah melahirkan tingkat kerisauan yang mendalam di benak banyak orang, terutama kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan dan pecinta lingkungan itu sendiri.

Dari hasil diskusi Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Lingkungan Hidup (PWLH) Banjarmasin yang menghadirkan LSM dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Kompas Borneo, dan LSM lainnya itu banyak menyoroti mengenai pertambangan batu bara tersebut, bahkan muncul kekhawatiran akan dampak dahsyat bencana alam akibat maraknya pertambangan itu.

Menurut diskusi tersebut perubahan alam Kalsel kini sudah terasa dampaknya akibat tambang batu bara. Bagaimana tidak, di kawasan daratan Kalsel yang dikenal dengan bentuk Rumah Bubungan Tinggi itu telah hancur, selain hutan gundul karena penebangan kayu secara membabi buta, sekarang ditambang pertambangan batu bara yang tak terkendali.

Bahkan terungkap ternyata wilayah resapan air berupa hutan tropis basah di Pegunungan Meratus kini telah tercabik-cabik oleh pertambangan batu bara baik yang legal atau ilegal yang dikelola pihak preman-preman.

Di kawasan pertambangan PT. Adaro Indonesia saja terdapat beberapa buah tandon raksasa atau kawah besar bekas tambang yang menyebabkan bumi menganga tak mungkin bisa direklamasi, akhirnya dibiarkan begitu saja.

Begitu juga di kawasan Satui dimana PT. Arutmin beroperasi terdapat lubang-lubang pula namun agak sedikit baik karena perusahaan ini berhasil mereklamasinya sebab tambang di sini tak dalam, tetapi telah menyebabkan alam berganti menjadi hutan buatan hasil reboisasi perusahaan tetapi telah menghilangkan hutan alam penjaga lingkungan.

Yang paling parah terlihat di ratusan bahkan ribuan hektare lahan bekas tambang Peti yang dikelola masyarakat baik perusahaan kecil atau individu. Lahan-lahan mereka tersebut digali, kemudian diambil batu baranya lalu bekas tambang itu dibiarkan rusak parah begitu saja tanpa adanya reklamasi seperti terlihat di berbagai wilayah.

Dampak yang terasa dari lahan yang rusak demikian adalah bila hujan sedikit saja maka air di atas gunung begitu deras turun tanpa bisa ditahan, dan air yang turun bukan lagi air hujan jernih melainkan telah bercampur dengan lumpur dan debu batu bara.
Bahkan sekarang ini Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus yang dulunya biru telah berubah tingkat warna dan kekeruhan akibat pertikel lumpur dan material lainnya.

Sampai-sampai alat pengukur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin yang mengambil air sungai tersebut sebagai bahan baku tak bisa lagi mengukurnya, lantaran tingginya tingkat kekeruhan dan warna itu.

Hasil sebuah penelitian begitu tingginya tingkat kekeruhan dan warna air Sungai Martapura tersebut ternyata air itu telah mengandung sejenis kaolin yakni bahan kimia yang berasal dari tambang batu bara. Bukan hanya itu tambang batu bara di Kalsel telah mengubah tingkat polusi udara dan debu di berbagai wilayah Kalsel.

Kota Banjarmasin saja yang jauh dari lokasi tambang telah mewaspadai pencemaran udara akibat debu dari tambang batu bara tersebut. Ada beberapa titik yang tingkat pencemaran debu batu bara di atas ambang normal seperti diakui Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Kota Banjarmasin, Hesly Junianto,SH.
Kawasan dimaksud seperti di Pelambuan dimana terdapat stockpile (lapangan penumpukan batu bara) serta simpang empat Jalan Lambung Mangkurat depan kantor Pos Besar Banjarmasin.

Kota Banjarmasin ternyata terkena dampak lingkungan yang sangat dahsyat akibat tambang itu karena ribuan mobil truk pengangkutnya menuju pelabuhan di Banjarmasin melalui jalan-jalan umum di dalam kota ini.

Dampak lain penambangan marak tersebut, adalah banyak jalan negara yang sebenarnya dalam peraturan tak dibolehkan dilewati truk pengangkut batu bara kini tetap menjadi jalur pengangkutan sehingga jalan tersebut rusak parah.

Contoh saja jalan trans Kalimantan antara Kabupaten Tapin hingga Banjarmasin yang yang mengalami kerusakan parah seperti degradasi, berlubang, longsor, becek, bergelombang, akibat tak mampu menahan beban berat pengangkutan batu bara tersebut. Karena ribuan truk besar setiap hari melalui jalan nasional (negara) itu.

Kerisauan kerusakan jalan tersebut telah menimbulkan gelombang unjukrasa di masyarakat, termasuk penutupan jalan nasional oleh masyarakat yang tak ingin jalan itu dilalui truk pengangkut batu bara, seperti terjadi di Tapin, Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan.

gambar batubara

Kerusakan jalan yang parah di mana-mana itu telah mengusik hati Gubernur Kalsel, H.M.Sjachriel Darham untuk memanggil bupati/walikota se propinsi tersebut untuk membahasnya serta mencari solusi terbaik agar jalan tidak mengalami kerusakan lagi.
Belum lagi keluhan ahli pertanian yang disebutkan banyak lahan subur potensi pertanian kini berubah menjadi lahan gersang, lantaran lapisan atas tanah yang mengandung humus dan tercipta ribuan tahun telah rusak akibat pertambangan tersebut.

Konon pula akibat tambang telah melahirkan semacam gas yang bisa meningkatkan tingkat keasaman tanah di sekitar tambang sehingga kawasan tambang tidak subur dan cendrung gersang.

Keluhan lain yang merisaukan akibat kegiatan tambang yaitu terjadinya tingkat pendangkalan sungai, pencemaran air limbah batu bara ke danau, sawah, serta ke pemukiman hingga menyiksa penduduk.

Kasus demontrasi warga akibat pencemaran itu telah terjadi di Sungai Satui, Desa Pulau Ku’u Kabupaten Hulu Sungai Utara, pinggiran kota Paringin, Senakin Kotabaru dan lainnya.

Kekhawatiran lain habisnya bahan tambang batu bara tersebut tidak terlalu banyak dinikmati warga setempat, sebab puluhan miliar dolar AS devisa dari tambang itu lari keluar negeri dan mengendap di bank-bank asing karena banyak pemilik perusahaan besar itu “saudagar kaya” dari luar negeri sebagai pemilik saham di perusahaan tersebut.
Apalagi tambang itu adalah jenis kekayaan alam yang tak bisa diperbarui, bila habis maka habislah kekayaan tersebut tinggal generasi muda atau generasi mendatang hanya bisa gigit jari.

Melihat begitu banyak persoalan buruk akibat tambang batu bara tersebut, boleh saja sekarang sebagian masyarakat mendapat angin surga tetapi diyakini di masa mendatang angin surga itu akan musnah dan muncul berbagai mala petaka bagaikan di neraka.

Untuk itu pula, akankah Kalsel nanti mempersembahkan surga atau neraka, karena seiring kerusakan alam malapetaka juga akan mengikutinya dan hal tersebut merupakan peringatan Allah SWT sebagaimana dalam Al Qur’an bahwa “kerusakan di bumi dan di laur karena ulah tangan manusia, sehingga tunggulah akibatnya”.

Produksi Batubara Kalsel Diprediksi Naik Sampai 2011

Produksi batubara diprediksi sebesar 86,8 juta ton pada 2009 di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 2009. Angka ini akan naik menjadi 97,4 juta ton pada 2010 dan sebesar 101,1 juta ton pada 2011.

”Produksi batubara Kalimantan Selatan mempunyai potensi untuk meningkat,” papar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro dikutip dari situs Kementerian ESDM

Namun, produksi batubara diperkirakan turun pada 2012 menjadi 96,4 juta ton. Penyebab hal ini tidak disebutkan dalam situs ESDM.

Sementara itu sebanyak 12 miliar sumber daya batubara terdapat di Kalsel. Cadangan ini mencapai 1,669 miliar ton.

Menyoal produksi batubara di Kalsel pada 2008, ucap Purnomo, diperkirakan sebesar 78,5 juta ton. Dari angka itu diketahui sampai November 2008 sebesar 71,9 juta ton. Dari angka ini dijual sebesar 68,2 juta ton terdiri dari ekspor sebesar 48,3 juta ton dan domestik sebesar 19,9 juta ton. Hingga akhir 2008 produksi total akan mencapai 78,5 juta ton.

Sejumlah perusahaan sedang melakukan eksplorasi dan konstruksi. Sebanyak 17 perusahaan pengusahaan pertambangan batubara pola PKP2B. Jumlah sumber daya batubara pada 17 perusahaan ini mencapai 2,994 miliar ton, sedang cadangan batubara sebesar 1,390 miliar ton.

Pada sisi lain kualitas batubara di Kalsel mengandung calorific value (adb) 3578-7298 kcal/kg, sulfur (adb) 0,04-2,94 %, ash (adb) 1-27,19%, fix carbon (adb) 35-45,9%, HGI 38-70, volatile matter (adb) 27,7-48,5%, inherent moister (ar) 3,54-24% dan total moisture (ar) 3,54-45%.

EKSPOR BATUBARA KALSEL MENINGKAT

BANJARMASIN – Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengungkapkan bahwa produksi batu bara di Kalimantan Selatan (Kalsel) berpotensi mengalami peningkatan di tahun mendatang.

Seperti dikutip dari situs ESDM, Rabu (7/1/2009), potensi sumber daya maupun cadangan batu bara masih cukup besar, saat ini di wilayah Kalsel juga terdapat beberapa perusahaan yang masih dalam tahap eksplorasi maupun konstruksi.

“Produksi batu bara Kalsel mempunyai potensi untuk meningkat,” papar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro dalam siaran persnya.

Purnomo mengatakan realisasi produksi batu bara Kalsel tahun 2008 hingga November 2008 sebesar 71,9 juta ton. Produksi sebesar itu volume penjualannya mencapai 68,2 juta ton terdiri dari ekspor sebesar 48,3 juta ton dan domestik sebesar 19,9 juta ton. Hingga akhir 2008 produksi total akan mencapai 78,5 juta ton.

Produksi sebesar itulah yang akan terus mengalami peningkatan di tahun-tahun berikutnya, setidaknya dalam lima tahun mendatang. Sementara untuk 2009, produksi ditargetken meningkat menjadi 86,8 juta ton. Tahun 2010 meningkat lagi menjadi 97,4 juta ton. Tahun 2011 rencana produksi diperkirakan mencapai 101,1 juta ton. Selanjutnya pada tahun 2012 mengalami sedikit penurunan menjadi 96,4 juta ton.

Saat ini terdapat 17 perusahaan pengusahaan pertambangan batu bara pola PKP2B. Jumlah sumber daya batu bara pada 17 perusahaan ini mencapai 2,994 miliar ton, sedang cadangan batu bara sebesar 1,390 miliar ton. Adapun untuk seluruh Kalsel, sumber daya batu bara sebesar 12 miliar dengan cadangan mencapai 1,669 miliar ton.

Selain itu, berdasarkan data Pusat Sumberdaya Geologi, Kalsel memiliki sumber daya mineral berupa besi primer (bijih 9,9 juta ton dan logam 5,97 juta ton), besi laterit (bijih 510,87 juta ton dan logam 240,57 juta ton), titanium laterit (bijih 596,49 juta ton dan 2,164 juta ton), kromit (bijih 152 ribu ton dan 45,5 ribu ton), emas primer (bijih 259,7 juta ton dan logam 1.173 ton), dan emas placer (bijih 255,8 juta ton dan logam 28.946 ton).

Puluhan KP Batu Bara Kalsel Terpaksa Tutup

Jakarta (ANTARA) – Lebih dari 90 perusahaan Kuasa Pertambangan (KP) batu bara di Kalimantan Selatan (Kalsel) terpaksa berhenti beroperasi menyusul tindakan aparat kepolisian yang menutup aktivitas usaha sejumlah perusahaan pemegang izin KP batu bara di provinsi tersebut.

Terhentinya kegiatan usaha pertambangan tersebut berdampak langsung pada 40 ribu orang pekerja tambang yang kehilangan pekerjaan dan 25 ribu orang lagi di sektor informalnya. Sementara pengusaha sendiri merasa dijebak karena sudah menjalani semua prosedur yang berlaku, kata Sekretaris Dewan Pengurus Asosiasi Pemegang Kuasa Pertambangan dan Pengusaha Tambang (Asapektam) Kalsel, Muhammad Solikin di Jakarta, Selasa.

Solikin mengatakan, penutupan KP batu bara yang umumnya milik pengusaha lokal itu terpaksa dilakukan karena pengusaha merasa takut. Ketakutan mereka cukup beralasan mengingat pimpinan tiga perusahaan anggota Asapektam Kalsel kini ditahan polisi dan wilayah tambangnya ditutup dengan tuduhan melanggar Keputusan Menteri Kehutanan (Kepmenhut) No.453/Kpts-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan
di Wilayah Kalsel, katanya.

Ia menilai, tindakan penahanan dan penutupan lokasi tambang yang didasarkan pada Kepmenhut No.453/1999 tersebut justru bertentangan dengan konstitusi. Berdasarkan undang-undang, lanjut Solikin, Kepmenhut itu belum mempunyai kekuatan hukum tetap karena isinya baru merupakan penunjukan kawasan hutan.

Menurut dia, dalam Kepmenhut No 453/1999 secara jelas menyebutkan bahwa Kepmenhut masih perlu dilengkapi dengan pengukuhan kawasan hutan. Pengukuhan tersebut setidaknya mencakup tiga hal yaitu membuat tata batas, pemetaan dan penetapan kawasan hutan.

“Faktanya sampai sekarang Departemen Kehutanan belum melakukan ketiganya sehingga Kepmenhut belum bisa disebut memiliki kekuatan hukum,” tegasnya.

Oleh karena itu pihak Asapektam Kalsel menyesalkan tindakan aparat yang melakukan penyegelan kawasan tambang, menangkap pengusaha serta menyita peralatan tambang. “Tindakan aparat sudah represif karena secara ketatanegaraan kami sebagai pengusaha sudah mengantungi perizinan dari pemerintah dan menyetor royalti ke negara. Terlebih penangkapan dan penyitaan tanpa pemberitahuan sebelumnya,” katanya.

Solikin juga menuduh, aparat bertindak diskriminatif mengingat di wilayah yang sama perusahaan asing dan kontraktor besar bisa melakukan kegiatan pertambangan dengan bebas dan tidak diambil tindakan apapun oleh aparat.

Solikin mengungkapkan, pihaknya sejauh ini sudah melakukan berbagai langkah persuasif maupun penjelasan baik ke pihak kepolisian, DPRD maupun Gubernur. Namun sejauh ini belum ada tanggapan maupun jalan keluarnya.

Asapektam juga telah mengadu ke DPR dan bertemu dengan Ketua DPR Agung Laksono pada akhir Januari lalu. Ketua DPR menyarankan agar masalah tersebut ditangani oleh lintas komisi. “Dari pertemuan dengan DPR disepakati masalah KP batu bara di Kalsel ditangani oleh Komisi III DPR bidang hukum dan HAM,” katanya.

Solikin berharap, masalah kelangsungan usaha KP batu bara di Kalsel bisa segera mendapatkan solusinya. Hal itu sangat penting karena kelangsungan usaha pertambangan rakyat di Kalsel menyangkut mata pencarian puluhan bahkan ratusan ribu orang di provinsi tersebut dan dampaknya bagi perekonomian Kalsel sendiri. Sementara pengusaha juga sudah mengalami kerugian investasi cukup besar dan kehilangan kepercayaan dari perbankan.

“Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa ada solusi yang menyeluruh dikhawatirkan pula bisa menyulut terjadinya konflik di daerah tersebut,” katanya.

Kalimantan Selatan Stop Penjualan Batubara

Banjarmasin – Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin akan menyetop penjulan batu bara ke luar daerah maupun ke luar negeri sebelum kebutuhan batu bara untuk listrik maupun lainnya di Kalsel dan Kalimantan Tengah terpenuhi.

Pernyataan gubernur yang disampaikan di hadapan seluruh kepala dinas dan Kepala Cabang PT PLN Kalsel dan Kalteng, Ari Agus Salim itu menanggapi sering terjadinya pemadaman listrik di Kalsel dengan salah satu alasan PT PLN kesulitan mendapatkan stok batu bara, Kamis.

Para pengusaha batu bara Kalsel, memilih menjual hasil tambangnya ke luar daerah atau ke luar negeri karena harganya lebih mahal, akibatnya kebutuhan batu bara di Kalsel tersendiri terabaikan.

“Bila diibaratkan, saat ini warga Kalsel seperti ayam yang mati di lumbung padi, bagaimana tidak Kalsel selama ini merupakan salah satu provinsi pemasok batu bara terbesar di Indonesia, namun kenyataannya di dalam daerah kekurangan sumber energi itu,” tambahnya.

Bila kondisi tersebut dibiarkan, alam Kalsel akan hancur sedangkan masyarakatnya tidak akan mendapatkan apa-apa, sementera daerah maupun negara lain berjaya dari hasil yang selama ini didapatkan dari sumber daya alam Kalsel. “Ini sangat ironis dan harus segera dicarikan jalan keluarnya,” tambahnya.

Apalagi, royalti yang diterima daerah dari pemerintah pusat pada sektor batu bara hanya sekitar Rp80 miliar atau jauh lebih kecil dari penerimaan pajak kendaraan yang mampu mencapai sekitar Rp300 miliar lebih, padahal Kalsel mampu menyumbang sepertiga dari kebutuhan batu bara nasional atau 50 ribu ton dari 150 ribu ton.

“Tentunya ini sangat tidak adil bagi masyarakat Kalsel, sehingga harus segera diperjuangkan oleh semua pihak, jangan sampai Kalsel hanya mendapatkan kehancuran alam saja sementara daerah lain justru menikmati kesejahteraannya.

Selanjutnya, tambah Gubernur, diminta Kepala Bappeda Kalsel segera membentuk tim regulasi untuk mengetahui secara detail kebutuhan batu bara Kalsel dan potensinya, serta membuat peraturan daerah (Perda) tentang pertambangan untuk diusulkan ke DPRD.

Dengan adanya perda tentang kewajiban untuk memenuhi kebutuhan daerah tersebut, ke depan tidak akan ada lagi pemadaman dengan alasan kekurangan batu bara sebagaimana yang terjadi selama ini.

“Saya harap untuk pembentukan tim regulasi ini langsung dipimpin Kepala Bappeda secepatnya,” tambahnya. Keinginan untuk melarang penjualan batu bara ke luar daerah sebelum kebutuhan Kalsel terpenuhi, mendapatkan dukungan penuh dari seluruh kepala dinas, mengingat selama ini hasil tambang batu bara Kalsel belum sepenuhnya bisa dirasakan oleh masyarkat Kalsel.

Kepala Cabang PLN Kalsel dan Kalteng, Ari Agus Salim mengungkapkan, menyambut baik ketentuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan batu bara daerah melalui peraturan daerah. “Ini sangat bagus bagi kami tentunya,” tambah Ari.

Namun demikian, tambahnya, dengan adanya kontrak suplai batu bara dengan PT Arutmin dan PT Jorong Barutama Greston selama 20 tahun, diharapkan suplai batu bara ke PLTU Asam-Asam tidak terjadi kendala lagi.

Menurutnya, kebutuhan batu bara PLTU Asam-asam setiap bulannya mencapai 60-65 ribu ton per bulan, yang seluruhnya sudah dipenuhi oleh Arutmin, sedangkan kontrak dari PT Jorong mencapai 20-25 ribu ton per bulan ditambah dengan perusahaan batu bara dari kuasa pertambangan (KP) sekitar 10 ribu ton per bulan.

“Dengan adanya kontrak yang mulai diberlakukan pada 2008, Insya Allah kebutuhan batu bara PLTU Asam-Asam tidak akan menjadi persoalan lagi,” tambah Ari. [Ant]

HARGA BATUBARA KALSEL TURUN

BANJARMASIN – Krisis ekonomi global menyebabkan harga batubara Kalimantan Selatan turun dari sekitar 110 dolar Amerika menjadi sekitar 90 dolar Amerika per metrik ton. Jika harga batubara terus turun, sejumlah perusahaan tambang batubara di Kalimantan Selatan terancam bangkrut.

Krisis ekonomi global, dampaknya mulai dirasakan perusahaan tambang batubara di kalimantan selatan.

Dalam sepekan terakhir, harga batubara turun tajam dari 110 dolar amerika, menjadi sekitar 90 dolar amerika per metrik ton.

Sejumlah perusahaan tambang batubara di Kabupaten Tapin, mengaku mengalami kerugian karena turunnya harga penjualan. Seperti yang dialami PT Kalimantan Prima persada. Perusahaan sulit menutupi biaya operasional, seperti biaya penambangan, pengangkutan hingga pengapalan. Jika krisis ekonomi dan penurunan harga batubara berlanjut, dikhawatirkan perusahaan tambang batubara di Kalimantan Selatan gulung tikar.

Untuk menghindari kebangkrutan, PT Kalimantan Prima Persada, terpaksa membatalkan pembelian alat dan armada angkut hingga penambangan sarana kantornya.

Kendati harga batubara anjlok, Namun PT Kalimantan Prima Persada tetap meningkatkan produksi batubaranya dari 250 ribu metrik ton perbulan menjadi satu juta metrik ton perbulan. Dengan harapan harga batubara bisa cepat pulih.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam neger, batubara asal kalimantan selatan sebagian diekspor ke sejumlah negara eropa dan asia.

Adaro Kalsel Genjot Produksi BatubaraEDWIN/REPUBLIKA

9,1 Miliar Ton Deposit Batubara Kalsel Tunggu Sentuhan Investor

Banjarmasin : Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan kini menawarkan peluang usaha sektor pertambangan, karena deposit emas hitam di daerah tersebut mencapai 9,1 miliar ton.

Gubernur Kalsel Drs.Rudy Ariffin diwakili Ketua Bappeda Drs.Nor Riwandi dihadapan peserta Safari Jurnalistik2007 PWI Regional Kalimantan di Banjarmasin, Selasa (29/05) mengatakan selain batubara juga masih terdapat potensi tambang lainnya yang dikandung Bumi Antasari.

Dihadapan 35 orang peserta Safari Jurnalistik asal Kalteng, Kalbar, Kaltim dan tuan rumah Kalsel itu disebutkan potensi tambang lain berupa minyak bumi, nikel, biji besi, biji kromit, emas, intan, batu gamping, marmer, pasir kwarsa, oker, phosapat, kaolin, lempung, diorit, besalt, periodotik, andesit, granit dan gambut.

Potensi tambang unggulan selain batubara, juga ada tambang marmer, intan, kwarsa, emas, batu gamping, biji besi.

Usaha pertambangan melalui yang bisa dilakukan adalah melalui Kontrak Karya (KK), PKP2B, Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPDA) dan Surat Izin Pertambangan Rakyat Daerah (SIPRA).

Disebutkanpotensi tambang yang bisa digarap kalangan investor yaitu seperti batubara potensi sebesar 9,1 miliar ton, yang tersebar di 11 Kabupaten, kecualiwilayahKabupatenBarito Kuala dan Kota Banjarmasin.

Sedangkan cadangan batubara itu tercatat 1,8 milyar tondengan kalori 4000-7200 kal/gram,minyak bumi potensi 101.976.400 miliar Nikel potensi 42.434.000 ton, batu gamping potensi sebesar sekitar 8,6 milyar ton yang merupakan bahan utama semen, industri keramik, bahan bangunan dan industri kimia serta sebagai bahan dasar pembuatan kalsium.

Lokasi penyebaran batu gamping ini terdapat di Kab Tabalong, Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS),Tanah laut, Tapin, Kotabaru dan Tanah Bumbu.

Sementara potensi marmer sekitar 3,2 milyar m3, lokasi di Kabupaten Tabalong, HST, HSS, Kotabaru danTanah Bumbu, biji Besi (kadar Fe2 : 42-63 persen), potensinya sebesar sekitar 568.763.300 ton, dengan daerah penyebaran di Kab Tanah Laut, Kotabaru, Tapin, HSS, Banjar dan Balangan.

Pasir kwarsa, potensi 60.588.000 ton, granit potensi sebesar 58.260.000 M, kaolin potensi sebesar 16.744.000 ton, intan potensi sebesar 25.514.000 M, kasar0,005karat, emas kasar, 1,72 gram/ton.Sementara potensi kehutananhutan lindung 554.139 Ha, suaka alam dan hutan produksi 176.565 Ha, hutan produksi terbatas 155.268 Ha, hutan produksi tetap 688.864 Ha, hutan konversi 465.638 Ha.

Dari luas hutan itu maka berpotensi investasi, seperti pembangunan pabrik pulp,pembangunan pabrik furniture, budidaya hasil hutan, pengembangan HTI, wisata alam dan penelitian.

Kemudian untuk pertanian yang sekarang ini gaka membaik adalah komoditijagung yang merupakan komoditas tanaman pangan utama yang menjadi prioritas untuk dikembangkan setelah padi.

Pengembangan komoditas jagung ini terutama di KabupatenTanah Laut,Tanah Bumbu sertaKotabaru.Disampingitu juga dikembangkan komoditi pisang yang di Kalsel yang cukupdikenal adalah jenis pisang Menurun/pisang kepok yang mempunyai rasa khas tersendiri.

Luas areal perkebunanpisang seluas 10.000 Ha, dan sentra Produksi Pisang menurun di Kabupatenterdapat di KabupatenBanjar, Tapin, HSU, Balangan.

Peluanginvestasi dan pengembanganpisang untuk diolah menjadi tepung, serta perdagangan antar pulau setelah pisang diminati di Pulau Jawa. (ant)

Adaro Kalsel Genjot Produksi BatubaraEDWIN/REPUBLIKA

BANJARMASIN — Krisis keuangan global tidak memengaruhi kinerja perusahaan batubara PT Adaro Kalimantan Selatan (Kalsel), yang sejak 2009 kembali meningkatkan produksi menjadi 42 juta ton dari sebelumnya hanya 38 juta ton. “Krisis hingga kini belum mempengaruhi kinerja perusahaan kami, karena memiliki pelanggan tetap yang tersebar pada 18 negara termasuk Indonesia,” kata General Manajer Operasional PT Adaro Kalsel, Priyadi di Banjarmasin, Kamis.

Menurutnya, selama ini yang menjadi pelanggannya baik untuk luar negeri maupun dalam negeri adalah perusahaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), sehingga kendati krisis keuangan global menimpa hampir seluruh sektor, namun permintaan batubara untuk listrik tetap meningkat.

Dari seluruh produksi batubara yang dihasilkan PT Adaro Kalsel, 30 persen untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, baik untuk PLTU Pyton maupun di Kalsel sendiri, dan 70 persen untuk ekspor. “Mungkin kalau pelanggan kita hanya beberapa negara dan beberapa perusahaan saja, PT.Adaro juga akan terkena imbas krisis, namun karena pelanggannya menyebar pada 18 negara, krisis masih bisa ditangani,” katanya.

Priyadi yakin target peningkatan produksi tersebut akan bisa dilaksanakan dengan baik, seiring dengan dibukanya alur Barito baru, yang bisa dilewati selama 1×24 jam. Menurut dia, dengan bisa dilewatinya alur Barito selama 1×24 jam, pihaknya bisa mengefektifkan biaya karena penambahan alat transportasi seperti tongkang batubara bisa ditekan.

Pada saat alur Barito masih memanfaatkan sistem pasang surut, yaitu enam jam pasang dan jam berikutnya surut, diperlukan tongkang batu bara yang cukup banyak, karena tongkang harus antre untuk bisa melintas alur. Dengan kelancaran alur Barito, maka arus keluar masuk tongkang lebih cepat sehingga lebih efektif. “Kalau masih alur lama, bertambahnya produksi perusahaan harus menambah tongkang batubara, kalau sekarang tidak perlu, cukup tongkang yang ada,” katanya.

Kepala Dinas Pertambangan Kalsel, Ali Mazanie mengungkapkan, produksi batubara dari Kalsel akan kembali meningkat dibanding 2008, dari hanya sekitar 82 juta ton menjadi 98 juta ton. “Untuk sektor batubara, Kalsel masih bisa bertahan dari terpaan krisis, karena seluruh perusahaan batubara skala besar atau PKP2B telah terikat kontrak jangka panjang,” katanya.

Kondisi tersebut berbeda dengan perusahaan batubara yang berskala kecil, banyak yang harus tutup karena harga batubara yang turun drastis.

Rata-rata perusahaan lokal belum terikat dengan kontrak jangka panjang, sementara penjualan dilakukan melalui pihak ketiga atau broker, sehingga saat beberapa perusahaan di negara-negara importir mengurangi kebutuhan batubara, perusahaan-perusahaan lokal kehilangan pembeli dan akibatnya produksi dihentikan sementara. ant