Paringin,(oleh Paman Anum) – Ratusan pengunjung serbu tumpukan buah-buahan yang disediakan panitia festival buah lokal Kalsel yang berlangsung di Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (12/1) lalu.

Jenis buah yang diserbu untuk dicicipi secara gratis tersebut diutamakan terhadap jenis buah yang pertama kali dilihat oleh pengunjung, lantaran jarang dijual di pasaran, karena memang langka.

Dalam rebutan terhadap buah di festival yang dibuka Bupati Balangan Ansharudin tersebut tak sedikit pengunjung yag terluka kecil terkena duri buah-buahan, seperti buah unik sejenias durian yang disebut “lahung.”

Mengambil buah ini kalau tak hati-hati tangan bisa tertusuk duri, karena walau seperti durian tetapi durinya kecil-kecil panjang dan lancip. Warna kulit berduri buah durian jenis ini merah kehitaman, dan isinya putih kekuningan dengan aroma dan rasa yang khas dan untuk mengambil isnya maka buahnya harus dipenggal maka beda dibandingkan dengan mengambil isi durian kebanyakan.

Selain itu sasaran lain terhadap buah jenis durian tetapi warna kulit kuning kemerahan yang disebut buah “Kalih” yang satunya lagi disebut buah “traku.”

Istemewanya dua buah ini bentuknya persis durian tetapi warna kulit kuning kemerahan dan warna isi buah merah menyala atau merah tuska.

Belum lagi jenis durian yang disebut “pampakin,” Karatongan, Mantaula, Mantuala, Mahrawin, semua yang disebut ini jenis durian tetapi tidak seperti durian yang kebanyakan dijual di pasaran, karena bentuk bundarnya, warna kulit dan rasa yang berbeda-beda pula.

Itu hanya jenis durian belum lagi dalam festival yang hanya diselanggarakan perangkat desa Marajai yang dibantu oleh pemerhati dan peneliti buah setempat Hanif Wicaksono tersebut, terdapat pulan jenis buah sejenis nangka-nangkaan.

Seperti yang disebut buah tarap, binturung, kulidang, mintawa, dan lainnya begitu juga jenis rambutan ada yang disebut siwau, maritam, buluan, dan sebagainya.

Tak kalah menarik jenis mangga manggaan (mangifera), duku-dukuan, aneka pisang hidup di hutan hingga ada pisang warna kulitnya yang merah serta puluhan jenis buah lainnya yang relatif sulit ditemui di pasaran.

Dalam festival yang berlangsung di kampung Marajai yang berada di Pegunungan Meratus tersebut dijejali pengunjung, sehingga jalan menuju desa hanya berupa jalan tanah bebatuan tersebut yang sebelumnya sunyi senyap berubah menjadi hiruk pikuk dan terjadi kemacetan.

Apalagi acara digelar habis hujan sehingga kawasan menjadi becek tetapi tak mengurangi minat masyarakat untuk menyaksikan festival yang pertama kali terhadap buah lokal yang mulai langka tersebut.

Bupati Balangan Haji Ansharudin yang hadir bersama para pejabat pemkab setempat mengapresiasi kegiatan tersebut yang disebutkan ini luar biasa sebagai momen untuk mengenalkan buah-buahan langka yang masih tumbuh dan berkembang di wilayah Pegunungan Meratus tersebut.

“Dengan adanya festival buah ini membuktikan bahwa bumi Kalimantan menyimpan kekayaan yang luar biasa terhadap plasma nutfah, khususnya buah-buahan” kata Ansharudin .

Kekayaan tersebut harus dilestarikan untuk generasi yang akan datang, makanya Pemkab akan meidentifikasi aneka tanaman buah tersebut untuk diambil bibitnya dan dikembangkan pada lahan seluas tujuh hektare di Taman Hutan Raya Balangan.

Mulai langka.

Kian maraknya penebangan hutan yang diiringi dengan perkebunan kelapa sawit dan kebun karet unggul yang terus meluas di berbagai daratan Provinsi Kalimantan Selatan, telah mengubah kondisi hutan yang beraneka ragam buah-buahan khas setempat.

Belum lagi adanya penambangan batubara yang mengupas lahan yang di atasnya berhutan dengan aneka buah-buahan tersebut, telah menghilangkan ratusan spicies pelasma nuftah yang sebenarnya sangat bernilai jika terus dilestarikan.

Tadinya dari 1,7 juta hektare lahan hutan di Kalsel, kondisinya terus menurun seiring berkembangnya perkebunan kedua komoditi yang menjadi andalan ekonomi tersebut.

Belum lagi sekitar 700 ribu hektare lahan yang kering kerontang akibat kebakaran hutan dan eksploitasi lainnya menyebabkan populasi buah-buahan endemik pulau terbesar di tanah itu terus menysut.

Berkurangnya kayu-kayu hutan membuat sebagian warga setempat terus menebang kayu dari pohon buah-buahan itu sekadar hanya untuk memenuhi kebutuhan pembuatan rumah, pondok, dan bangunan lainnya.

Termasuk adanya warga yang menebang pohon buah untuk dijadikan vener sebagai bahan pelapis dalam plywood (kayu lapis) untuk kebutuhan ekspos.

Berbagai tindakan tersebut terus menghilangkan keaneka ragaman hayati berupa buah-buahan tersebut, sehingga dikhawatirkan beberapa jenis buah akan hilang, karena sekarang sudah mulai langka.

Berdasarkan catatan untuk jenis durian saja di Kalimantan Ini terdapat sekitar 40 jenis, dari semua itu sebagian terbilang unik dan tak ada di daerah lain.

Sebagai contoh di Kalsel ini seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, juga ada jenis durian durian yang kulitnya kuning keemesan dan isi buah juga kuning keemasan yang disebut penduduk setempat “pampakin” atau di Kaltim disebut buah lai (Durio kutejensis).

Kemudian ada pula durian berkulit merah kehitaman berduri panjang-panjang, isi warna putih warna biji hitam, rasanya khas yang disebut lahung ((durio dulcis) .

Ada lagi durian perpaduan antara durian biasa dengan pampakin yang disebut mantaula, lain lagi durian bulat kecil dengan duri panjang dan besar, isisnya warna kuning dan tebal disebut karatongan.

Satu lagi yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus) bentuknya persis karatongan tetapi warna kulit lebih hijau dan bulu yang runcing lebih pendek-pendek.

Semua jenis durian tersebut, konon, hanya ada di Kalimantan, karena tak pernah ditemukan tumbuh di luar dari habitat aslinya pulau Kalimantan.

Menurut pemerhati buah-buahan Kalimantan, Hanif Wicaksono, Kalimantan memang surga bagi tanaman buah, hanya saja sekarang populasinya terus menurun akibat eksploitasi lahan yang terus meningkat untuk berbagai kepentingan.

Menurut dia, akibat kian menghilangnya jenis buah Kalimantan ini menimbulkan banyak keprihatinan yang mendalam akan lenyapnya kekayaan alam tersebut.

Tak sedikit orang di luar Kalimantan, seperti dari Pulau Jawa yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan plasma nutfah tersebut, lalu membeli biji-biji buahan tersebut.

Hanif sendiri yang pekerjaannya adalah penyuluh program Keluarga Berancana (KB)
Desa Marajai masih memiliki sejumlah pohon pohonan buah langka endemik Kalimantan.

Pemerhati buah khas Kalimantan Hanif Wicakcono bersama Kepala Desa Marajai Adi Setiawan kepada penulis membenarkan desa Marajai masih banyak tumbuh pohon-pohonan buah khas Kalimantan yang sekarang sudah mulai langka.

“Dari sekitar 150 jenis buah lokal Kalimantan yang mulai langka tersebut 100 jenis ada di Marajai” kata Kepdes Adi Setiawan.

“Kita bersyukur masih ada lokasi lahan yang ditumbuhi aneka buah-buah khas Kalimantan, karena tidak dijadikan kebun karet unggul dan sawit sebagaimana lahan-lahan lainnya di wilayah ini,” kata Adia Setiawan dan Hanif Waicaksono.

Lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah itu maka Marajai merupakan wilayah penghasil buah-buahan jenis langka itu yang banyak dijual belikan, baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya.

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa),kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Melihat aneka buah lokal yang merupakan plasma nutfah tersebut telah mencerminkan hutan Kalimantan khususnya Pegunungan Meratus menyimpan kekayaan yang luar biasa yang harus dijaga untuk tidak dieksploitasi baik untuk pertambangan maupun kegiatan ekonomi lainnya, karena itu kekayaan ciptaan tuhan yang nilainya melebihi dari nilai usaha pertambangan dan penebangan lainnya.

pohon buah tandui,

pohon buah lahung

pameran buah unik

Saat festival buah unik di Merajai

Laporan kepala desa Marajai, saat festival

Penjelasan ttg buah lokal Kalimantan oleh pemerhati Hanif Wicaksono

keterangan soal buah unik