Banjarmasin, (Paman anum)- Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan, yang dipimpin Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina secara tak terduga mengeluarkan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 18 Tahun

2016 yang mengatur Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

Perwali yang mengatur pemanfaatan kantongan plastik terhadap ritel dan di pusat pusat perbelanjaan modern tersebut ditetapkan tanggal 28 Maret 2016 dan ?diberlakukan sejak tanggal 29 Maret 2016.

Aturan tersebut mencengangkan banyak pihak, karena wilayah lain yang selalu berkoar-koar ingin memerangi sampah plastik terlihat hanya sebatas wacana saja.

Belum ada daerah yang melakukan aksi jelas dalam upaya memerangi sampah plastik yang berpotensi merusak bumi itu.

Dengan Perwali itu, Kota Banjarmasin yang berjuluk “kota seribu sungai” sebagai kota pertama atau visioner yang melarang pemanfaatan kantongan plastik.

Alasan Pemkot mengeluarkan Perwali tersebut tak lain adalah untuk menjaga lingkungan yang sehat dan pembangunan berkelanjutan.

Lantaran sampah plastik dinilai sangat berdampak buruk bagi lingkungan karena sifatnya yang susah diuraikan oleh tanah meskipun sudah tertimbun bertahun-tahun.?

Berdasarkan keterangan para ahli, sampah plastik baru bisa diuraikan oleh tanah setidaknya setelah tertimbun selama 200 hingga 400 tahun.

Bahkan hasil penelitian lainnya menyebutkan, bahwa sampah plastik bisa terurai dalam waktu 1000 tahun lamanya.

Proses penguraian yang cukup lama tersebut, mengakibatkan dampak sampah plastik buruk bagi lingkungan, seperti munculnya zat kimia yang dapat mencemari tanah sehingga berkurang tingkat manfaat dan kesuburannya.

Selain itu, dengan proses yang susah diuraikan, sampah plastik juga dapat membunuh sang pengurai tanah, sehingga wajar saja apabila tingkat kesuburan yang dimiliki tanah terus berkurang.?

“Dengan mengetahui fakta ini alangkah baiknya kita, selaku masyarakat Indonesia, menyadari bahwa penggunaan plastik sebenarnya tidak baik, apabila secara berlebihan dalam penggunaannya,” katanya.