Paringin (Paman Anum)- Sekelompok pemuda pecinta lingkungan yang tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Sanggam, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, mulai berkiprah menyelamatkan buah-buah lokal yang mulai langka.

Anggota FKH Sanggam Balangan, Adie (26 th) kepada ANTARA Kalsel, di Paringin, Selasa mengakui kiprah FKH Balangan dalam penyematan plasma nutfah berupa buah langka tersebut.

Oleh karena itu mereka sudah melakukan pembibitan sebanyak 25 jenis buah lokal yang mulai langka, melalui kebun pembibitan organisasi, yang sebagian sudah di tanam di berbagai lokasi perkebunan masyarakat di Desa Panggung dan Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan.

Jenis-jenis yang sudah dibibitkan tersebut antara lain
Landur, kumbayau, gitaan, binjai madu, dara, jari, kulidang, silulung monyet, putaran, tandui, maritam, durian habang, mahrawin, karatungan, mantaula, sindawak, kalih, dan lahung.

Bibit tersebut sebagian besar mereka peroleh di lokasi sentra plasma nutfah buah lokal Kalimantan yang berada di Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan.

Pihak FKH Balangan sendiri beserta rombongan sudah beberapa kali melakukan perjalanan ke lokasi Desa Marajai, bertemu dengan Kepala Desa setempat, Adi Setiawan dan pemerhati buah lokal sekaligus penelitinya Hanif Waicaksono.

Melalui kedua orang tersebut FKH Balangan banyak memperoleh biji buah lokal untuk dibibitkan tersebut, kata Adie.

Berdasarkan keterangan dalam penjelajahan di kawasan Marajai bersama Hanif Wicaksono seraya mengindentifikasi aneka buah-buahan yang ada di kawasan tersebut, hasilnya mencengangkan, sungguh kekayaan yang luar biasa.

Banyak sekali buah-buah yang terlihat dan yang sulit ditemui di wilayah lain.

“Kita bersyukur masih ada lokasi lahan yang ditumbuhi aneka buah-buah khas Kalimantan, karena tidak dijadikan kebun karet unggul dan sawit sebagaimana lahan-lahan lainnya di wilayah ini,” kata Hanif Wicaksono yang masuk nominasi tujuh terbaik “Satu Indonesia Award” 2018 yang diselenggarakan grup Astra.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Apalagi durian di Marajai aneka spesies, ada durian berkulit merah yang disebut lahung (durio dulcis) ada durian kuning yang disebut mantaula (Durio kutejensis), ada durian berkulit warna hijau tua, berduri lancip panjang yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus), dan aneka jenis durian lainnya.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang (Artocarpus lanceifolius ), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya.

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku (Dimocarpus longan subspecies malesianus), luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa), kalangkala (Litsea garciae), gitaan / tampirik (Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Semua yang terindentifikasi tersebut bisa dikatakan sudah langka dan sulit ditemui di daerah lain, padahal Kalimantan Selatan ini termasuk penghasil buah-buahan dengan sekitar 40 spesies rambutan, 30 spesies durian, dan puluhan pula spesies mangga-manggaan dan lainnya.