Banjarmasin (Antaranews Kalsel)- Setiap hari warga Kelayan Kota Banjarmasin mengayuh sepeda bututnya seraya berjualan pandalan kayu (potongan kayu untuk memotong ikan).

Diusianya yang sudah renta (89 tahun) sulit dipercaya kakek yang mengaku punya anak 18 ini masih bisa mengayuh sepeda masuk kampung keluar kampung hanya untuk menjualkan punya orang berupa pandalan kayu.

Pandalan kayu yang dijual itu ada yang besar Rp15 ribu per buah dan yang kecil Rp10 ribu per buah, dengan hasil yang diperolehnya dengan hanya mengambil keuntungan sekitar rp20 ribu per hari.

Kendati masih meongkosi empat anak, uang sebesar itu masih cukup untuk hidup sehari-hari, karena disela berjualan ia memancing ikan untuk kebutuhan sendiri dan kelebihan dijual menambah penghasilan.

Ketika ditanya mengapa hidup setua itu masih sehat ia mengaku tidak memiliki resef tersediri, tetapi cukup dengan hidup tenang walau dalam kondisi miskin.

Makannya pun tidak pilih pilih, semua ia makan tak ada pantangan, tetapi tidak berlebihan. Istirahat cukup dan beribadah.

“Yang penting hidup kita jangan sekali-sekali “menggaduhi orang” (mencampuri urusan orang),” katanya sambil tersenyum.

Biar orang lain, buta, pincang, atau cacat lainnya, tak perlu menghina apalagi usil kepada mereka, mereka juga ciptaan tuhan yang sebenarnya tak ingin cacat seperti itu.

Selain itu hidup harus ikhlas, dan tawakal, dan mensyukusi apa yang ada, insya allah bahan jadi sehat, kata kakek saat ditanya berada istirahat di tepian Jalan A Yani Banjarmasin ini.