Saya memiliki sejumlah  anggrek spicies yang sebagian besar berasal dari Pegunungan Meratus, Kabupaten Balangan Propinsi Kalimantan Selatan. Anggrek-anggrek tersebut kini menghiasi halaman dan samping rumah saya,  saya tidak tahu nama species anggrek tersebut, tetapi yang bilang bulbo, dendro, bulan, vanda,  dan sebagainya, bentuknya aneh-aneh ada yang seperti sisik trenggiling, ada yang tangkai bunganya seperti lipan, ada seperti buntut tikus, daunya seperti gergaji. daun juga unik-unik, ada yang seperti kelereng,  daun besar dan gemuk, ada yang panjang dan sebagainya.

Hanya saja bunga anggrek hutan atau spicies ini kecil-kecil dan tidak tahan lama, paling seminggu sudah layu dan gugur, tidak seperti bunga anggrek hibrida yang tahan berbulan-bulan.

Inilah sebagian contoh anggrek-anggrek yang saya lestarikan tersebut, mudah-muahan kian berkembang biak dikemudian hari.

anggrek

d.jpgb.jpgc.jpganggrek1.jpgang.jpga6.jpgkembang.jpgbunga1.jpgf-bunga.jpga5.jpgb.jpge.jpgf.jpgb4.jpganggrek.jpga.jpgf1.jpganggrek-garuanggrek2anggrekanggrek1b1.jpgbunga.jpgbunga.jpgbbunga.jpgc1.jpgb3.jpgc1.jpgkem.jpgb1.jpga1.jpganggrek.jpgang-juntaianggrek anggrek-aspirata

Di atas ini beberapa contoh bunga anggrek Balangan

Gambar di bawah ini beberapa bagian sudut halaman rumah saya lokasi pelestarian anggrek khas Kalsel

Foto lengkap  koleksi anggrek Balangan di pekarangan rumah saya, dapat dilihat melalui Flickr. Silakan klik di sini

satu jenis anggrek hidup di atas pohon besar besar wilayah Kabupaten Balangan Kalsel

MENCARI KEPUASAN HATI DENGAN MENJADI KOLEKTOR ANGGREK

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin,23/3 (ANTARA)-   Mendatangi para penjual anggrek hutan yang berada di berbagai tempat, khususnya yang terdapat di  Kandangan Ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Paringin Ibukota Kabupaten Balangan, Kota Banjarbaru, serta di pusat sentra penjualan (pasar) anggrek dan tanaman hias Jalan A Yani kilometer tujuh Banjarmasin merupakan salah satu kiat seorang kolektor anggrek menambah koleksi anggreknya.

Di pusat penjualan tanaman hias dan anggrek Jalan A Yani ini biasanya para kolektor berkeliaran dari satu lokasi penjualan ke lokasi lain, seraya mencar-cari jenis anggrek baru di tangan para pedagang.

Bahkan seorang kolektor rela datang pada malam hari (Sabtu malam/pasar buka hari minggu) agar datang lebih awal sehingga apa yang dicari diharapkan tidak keburu dibeli orang.

Para kolekstor ini datang ada yang membawa lampu sinter, untuk mengamati jenis-jenis anggrek yang digelar para pedagang yang datang dari berbagai penjuru wilayah Kalsel, Kalimantan Tengah (Kalteng) juga datang dari Kalimantan Timur (Kaltim).

“Kita sangat puas, bila sudah menemukan jenis anggrek yang belum kita punyai, rasanya tak ada yang lebih menyenangkan hati daripada menemukan keinginan tersebut,” kata Khaidir seorang kolektor anggrek  di Banjarmasin.

Di Banjarmasin, serta di beberapa kota Kalsel, terdapat puluhan bahkan ratusan orang yang belakangan memiliki hoby mengkoleksi anggrek .

Kota Banjarmasin termasuk wilayah yang memiliki kolektor anggrek yang bisa dibanggakan, sebagai contoh saja di Kawasan Jalan Belitung saja terdapat dua lokasi pembudidayaan anggrek hibrida dan hutan Kalimantan Skala besar, yakni milik Ibu Sanah (Aulia Orchid) dan milik Ibu Dian Saconk (Dian Orchid) dengan jumlah koleksi ribuan batang dengan ratusan spicies.

Pengkolektor anggrek ini juga terlihat di Jalan A Yani, Jalan Sultan Adam, Jalan Lingkar Dalam, Jalan Pangeran Antasari, dan lokasi lainnya.

Sementara koleksi yang juga dengan jumlah besar adalah milik Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin yang terletak di pusat pembudidayaan anggrek (Screen House) Jalan Lingkar Dalam Banjarmasin.

Lokasi-lokasi ini menjadi daya tarik wisatawan bahkan menjadi tempat tujuan kalangan pecinta anggrek, termasuk didatangi Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Hj Yusuf Kalla sekaligus membawa beberapa spicies anggrek asli Kalimantan untuk menambah koleksinya.

Penulis sendiri, tadinya kurang tertarik menjadi kolektor anggrek, tetapi setelah ramainya penjualan anggrek hutan yang digelar begitu saja di pinggir jalan A Yani, maka timbul keinginan untuk memiliki anggrek tersebut.

Keinginan untuk memiliki itu tadinya hanya sekedar merasa prihatin, anggrek hutan kok diambil sembarangan lalu dijual begitu saja di pinggir jalan dan kepanasan, sehingga anggrek itu terlihat layu seakan mau mati saja, akhirnya penulis beli maksudnya untuk menyelamatkan anggrek itu dari kematian.

Dalam pikiran penulis Kalau anggrek diambil terus dihutan  lalu di jual ke kota tidak laku akhirnya anggrek itu mati, atau dibeli orang yang kurang telaten memeliharanya maka akhirnya populasi anggrek hutan itu juga akan musnah, padahal anggrek hutan merupakan kekayaan alam (flasma nutfah) yang harus dilestarikan.

Beranjak dari pemikiran sederhana itulah akhirnya, penulis satu demi satu anggrek dibeli dan dibudidayakan di rumah, ternyata berkembang baik akhirnya kebiasaan memelihara anggrek itupun menjadi hoby baru.

Anggrek hutan yang dijual digelar begitu saja di pinggir jalan A Yani Banjarmasin

Untuk menambah koleksi tersebut, akhirnya penulis juga rela pulang kampung kemudian membeli anggrek di kawasan hutan dekat rumah di Kabupaten Balangan, atau membeli dari warga desa yang terlebih dahulu memiliki anggrek hutan tersebut.

Dengan demikian akhirnya penulis sekarang memiliki sekitar puluhan spicies anggrek hutan yang menghiasi pekarangan rumah.

Setiap pagi penulis rajin menyiram anggrek-anggrek tersebut,bahkan rasanya hati ini sangat senang ketika melihat sekuntum anggrek hutan yang tadinya tidak tahu sama sekali bentuk bunganya.

“Bedanya memelihara anggrek hutan ini dibandingkan kalau memelihara anggrek hibrida adalah kita kebanyakan tidak tahu nama jenis anggreknya,  apalagi bentuk bunganya, tetapi setelah berbunga baru ketahuan bentuk bunganya, bahkan ada yang menebarkan aroma wangi sekali, setelah melihat demikian puas rasanya” kata Khaidir.

Menurut Khaidir kalau membeli anggrek hibrida, sudah jelas tahu nama anggrek, dan bunga anggrek itu, akhirnya bila berbunga memang senang tetapi tidak sesenang kalau menyaksikan bunga anggrek hutan.

Sementara kalau membudidayakan anggrek hutan, diantaranya banyak yang tidak tahu nama anggreknya apalagi bentuk bunganya, akhirnya menerka-nerka saja bentuk bunganya putih atau kuning atau merah, besarkah, kecilkah dan sebagainya.

Bunga-bunga anggrek hutan berdasarkan pengalaman yang dibudidayakan penulis keindahannya relatif, tetapi bentuknya memang agak kecil-kecil bila dibandingkan dengan anggrek hibrida. Kelemahan lainnya bunga anggrek hutan itu umumnya tidak mampu bertahap lama paling lama  hanya setenah bulan saja.

Makanya banyak kolektor anggrek hutan menyilang anggrek hutan itu dengan jenis anggrek lainnya dengan maksud agar bunganya tambah besar dan waktu berbunga juga lama, agak lebih lama bisa dinikmati.

Untuk mempopulerkan anggrek hutan Kalimantan itu memang banyak dilakukan pihak pecinta anggrek ada yang selalu mengikutkan dalam pameran anggrek dan tanaman hias ada  pula yang diterbitkan melalui berbagai media massa maupun media elektroneka.

Penulis sendiri berusaha mempopulerkan anggrek hutan itu melalui media internet, pemirsa bisa menyaksikan jenis anggrek hutan itu dengan membuka situs google.com lalu ketik “anggrek Balangan” maka blog yang saya miliki di internet itu akan terbuka sendiri.

Ribuan spicies

Berdasarkan catatan anggrek hutan Kalimantan mencapai ratusan bahkan ribuan spicies, anggrek Kalimantan selalu menjadi pembicaraan kalangan pecinta anggrek karena jenis anggrek di pulau terbesar ini dinilai khas dan indah, sebut saja yang dinamakan anggrek hitam (Coelogyne pandurata).

Lidah bunga hitam pekat dengan kelopak mahkota hijau mulus menjulur di batang tangkai. Itulah kekhasan anggrek hitam sang primadona Kalimantan itu.

Grammatophyllum Speciosum, atau Anggrek Harimau atau juga disebut sebagai anggrek tebu lantaran bentuk batang dan daun seperti tebu, adalah anggrek terbesar di dunia yang berkembang biak di sela-sela pohon besar, Satu rumpun tanaman ini pernah tercatat memiliki berat 2 ton. Berada di lingkungan panas, hutan tropis yang lembab di kawasan Pulau Kalimantan juga menjadi daya tarik kolektor anggrek.

Keistemewaan anggrek tebu sangat tahan lama dan dapat bertahan sampai dua bulan. Bunganya dapat mencapai 6 in berwana kuning krim denga bintik coklat atau merah tua. Stem bunga dapat mencapai 6-9 in dengan 60-100 kuntum per tangkai.

Kawasan anggrek yang cukup di kenal di Kalimantan Selatan  adalah hutan Pegunungan Meratus, wilayah yang membujur dari selatan ke utara, mengandung kekayaan alam flora dan fauna. Hutan ini ternyata juga bak istana anggrek.

Wilayah hutan Pegunungan Meratus di Kalsel itu meliputi Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Tengah (HST).

Bukan saja terdapat dua jenis anggrek yang dikenal itu, tetapi beberapa jenis anggrek lainnya

seperti jenis Phalaenopsis bellina, Arachis breviscava, Paraphalaenopsis serpentilingua, Macodes petola,jewel orchids, Tainia pausipolia, anggrek tanah, Phalaenopsis cornucervi, Coelogyne asperata

-Bulbophyllum beccari, anggrek berbau busuk.

Kemnudian anggrek pandan Cymbidium finlaysonianum, Dorrotis pulcherrima, Chairani punya Plocoglotis lowii, Tainia pauspolia, Destario Metusala, Ceologyne espezata, Paphiopedilum lowii dan Paphiopedilum supardii (anggrek nanas).

Berdasarkan sebuah catatan upaya pengumpulan dan pendokumentasian tumbuhan dan termasuk anggrek alam Kalimantan dimulai sekitar tahun 1825 oleh George Muller asal Jerman. Sementara antara tahun 1901-1902, ahli botani asal Jerman bernama Friederick Ricard Rudolf Schlechter melakukan ekspedisi di Kalimantan mengumpulkan sekitar 300 tanaman anggrek.

Pada tahun 1925, Eric P Mjoberg melakukan perjalan ke Kaltim dan mengumpulkan 15.000 tanaman. Sebagian di antaranya diberikan ke Kebun Raya Bogor, yakni 127 jenis pakis dan anggrek.

Pada tahun yang sama, F Hendrik Endert, warga Belanda yang bekerja di Balai Penelitian Bogor juga melakukan ekspedisi ke Kaltim dan mengumpulkan 5.417 tanaman.

Melihat kekayaan alam Kalimantan dengan banyaknya spicies anggrek itu sudah selayaknya habitat anggrek itu dijaga dan dilestarikan setidaknya minimal melalui pembudidayaan dan pelestarian yang dilakukan kalangan kolektor agar jenis jenis itu kian berkembang biak dikemudian hari.

dua jenis anggrek raksasa yang diikutkan warga dalam kontes anggrek saat harjad kota Banjarmasin, Kamis 9/10 2008

Anggrek raksasa atau yang dikenal sebagai anggrek macan atau anggrek tebu digelar begitu saja oleh pedagang di pinggir jalan KM 7 Banjarmasin untuk dijual.

anggrek tanpa daun yang diikutkan dalam kontes anggrek di Banjarmasin

pai-kalsel

Pengurus Perkumpulan Anggrek Indonesia (PAI) Kalsel dan pelestari anggrek Spicies Kalimantan

ANGGREK KALSEL JADI PUSPA PESONA NASIONAL

Banjarmasin,16/3 (ANTARA)- Hutan wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki kekayaan flora yang khas, khususnya anggrek diantaranya spicies anggrek langka di kawasan Pleihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala).

Anggrek yang menjadi kebanggaan Provinsi Kalsel tersebut telah dijadikan puspa pesona nasional, kata Ketua Perkumpulan Anggrek Indonesia (PAI) Kalsel, Hj Aida Muslimah kepada pers di Banjarmasin, Senin.

Menurut Hj Aida Muslimah yang juga isteri Wakil Gubernur Kalsel, Rosehan NB tersebut, anggrek pleihari sejenis anggrek bulan yang hanya ada di hutan kawasan Pleihari.

Karena kekhasan anggrek tersebut menyebakan Ibu Wakil Presiden RI, Ny Hj Jusuf Kalla yang juga Ketua DPP PAI saat berkunjung ke Banjarmasin dan berkesempatan meninjau pembudidayaan anggrek tersebut terkesan dengan anggrek Pleihari sehingga membeli untuk dibawa ke Jakarta.

Jenis anggrek ini sudah mulai banyak yang membudidayakannya, seperti di lokasi screen house milik Pemkot Banjarmasin, Dian Orchid Jalan Belutung Darat, serta beberapa rumah pembudidayaan anggrek Kalimantan lainnya.

“Kita bangga memiliki anggrek spicies Pleihari yang terkenal tersebut, dan juga masih banyak lagi anggrek hutan Kalsel yang mempesona, dan diperkirakan terdapat sekitar 3000 spicies di hutan Kalsel,” kata Hj Aida Muslimah.

Untuk lebih menanamkan kecintaan terhadap anggrek PAI Kalsel sudah beberapa kali menggelar kontes ternyata selalu memperoleh perhatian masyarakat.

Selain itu PAI Kalsel juga menggelar pelatihan atau koaching clinic tanaman anggrek yang menghadirkan ahli anggrek Indonesia Franky Handoyo bertempat di DF Orchids Jalan Belitung, Munggu (8/3) lalu dihadiri kalangan pecinta anggrek dan pelestari anggrek kalimantan.

Anggrek Pleihari menurut Sukaisih seorang pemelihara anggrek di Kota Pleihari sejenis anggrek bulan yang hanya ada di hutan kawasan Pleihari, tetapi uniknya beda lokasi maka akan berbeda pula bentuk bunganya.

Seperti anggrek Pleihari yang diperoleh dari hutan kawasan Gunung Bira maka bunganya akan beda dengan anggrek Pleihari yang diperoleh dari kawasan hutan Gunung Ranggang, begitu juga anggrek Pleihari dari kawasan hutan Gunung Pleihari berbeda pula dengan yang lainnya.

Sementara keterangan lain menyebutkan anggrek spesies Pleihari ini memang agak beda dibandingkan anggrek kebanyakan, masalahnya daunnya agak panjang dan memiliki bunga yang unik, warna putih di tengah ada warna kuning dan di tengah warna kuning itu ada bintik-bintik merah.

Kelebihan dan keunikan lain jenis anggrek ini, adalah tangkai bunga, bila anggrek lain tangkai bunga biasanya mati setelah mengeluarkan bunga, tetapi bagi anggrek khas Pleihari ini justru tangkai bunga ini terus memanjang hidup dan akhirnya di tangkai bunga itu pula keluar bibit-bibit baru tanaman itu.

kuching-clinic-anggrek Dialog mengenai anggrek digelar PAI Kalsel menghadirkan pakar anggrek dari Jakarta, Franky Handoyo di Banjarmasin