inan

tabat basar

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN “TABAT BASAR” KALI MARAUP INAN
Oleh Hasan Zainuddin

Berbicara Desa Inan, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan (dulu Hulu Sungai Utara),pasti akan ingat di sana terdapat sebuah bendungan mini yang disebut warga setempat sebagai “tabat Basar.”
Mengapa lokasi ini begitu dikenal, bukan saja sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai lokasi irigasi sederhana pedesaan, sekaligus sebagai berkembang biaknya, ikan sungai dan rawa.
Keunikan lain lagi, dari tabat basar, karena ini hasil karya nenek moyang warga Desa Inan, yang mampu berkarya menciptakan bendungan kecil yang berasal dari sungai setempat yang disebut kali maraup.
Sungai kali marapu yang berhulu ke wilayah Kecamatan Awayan ini, tadinya hanya sungai kecil yang mengalir sebagaimana sungai kecil lainnya.
Tetapi melalui buah karya tetuha masyarakat Inan yang kala itu sekitar 30 tetuha kampung membuat bendungan sederhana yang berhasil menjadi lokasi irigasi pedesaan yang mampu  mengairi ratusan hektare persawahan setempat.
Bukan saja, ribuan ton padi sudah berhasil diproduksi dari hasil pengairan sederhana, tetapi sudah ribuan kwintal ikan dihasilkan dari hasil produksi tabat basar ini dikala tabat ini dikeringkan.
Suasana hiruk pikuk bagaikan pasar, seringkali mewarnai hari demi  hari bahkan berminggu-minggu warga bergerombol mencari ikan di tabat basar ini di kala tabat ini dibuka dan lokasi bendungan mengering hingga ikan terkumpul di lokasi itu.
Susana ini terus berlangsung tahun per tahun, bahkan warga setempat mampu menyediakan makanan “wadi” (ikan yang dipermentasi) hasil dari tangkapan ikan di Tabat Basar ini, hingga bertahun-tahun pula.
Umpamanya saja, bila mencari ikan tahun ini, lalu ikan diwadi, wadinya itu mampu bertahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga hingga tahun berikutnya disaat kembali tabat basar dibuka untuk menangkap ikan, kata Mursidi warga Desa Inan, yang kini menetap di Kota Palangkaraya Kalteng.
Ikan yang dihasilkan dari lokasi ini, beraneka ragam ada ikan baung, bakut, lais, puyau, sapat, haruan, tauman, sapat siam, papuyu, patung, junjulung, saluang, sanggiringan, tauman, khung, mihau, kapar,pentet, walut, lampam, dan banyak lagi jenis ikan hidup di lokasi tersebut.
Menangkap ikan warga setempat biasanya dengan cara bakacal, melonta, merinji, mehauk, membandung atau mahancau, menangguk, mangaring, mamancah, maraba, menyarakap, dan banyak lagi cara lainnya.
Saat-saat mencari ikan itu, biasanya warga kosentrasi hanya mencari ikan dan meningglkan usaha rutin seperti menoreh gatah bahuma dan lainnya, agar mereka dapat mengumpukan ikan sebanyak-banyaknya baik untuk makan segar atau diwadi.
Hanya saja dalam mencari ikan, hasil penangkapan warga umum harus dibagi dengan ahli waris pendiri tabat basar ini, dengan sistem bagi dua dan untuk ahli waris tersebut kemudian dibagi lagi untuk keluarga keturunannya.
Kalau dulu pendiri tabat basar sekitar 30 orang kemudian karena beranak pinak maka sekarang ahli waris menjadi 70 orang, kata Mursidi.
Kendati hasil penangkapan dibagi dua tetapi masyarakat umum tetap bersemangat menangkap ikan di lokasi itu, karena hasilnya masih melimpah  ruah.
Tetapi seiring perjalanan waktu, lokai bendungan tabat yang disebut kali meraup  terjadi pendangkalan lantaran sidementasi, disamping diserang tanaman gulma, seperti ilung dan kayapu hingga sungai menyampit dan bendungan tertutup oleh gulma dan surut akibat lumpur.
Guna mengembalikan ke kondisi asal, maka proyek rehabilitasi diserahkan kepada pemerintah, lalu oleh pemerintah sungai dikeruk dan tabat diperbaiki.
Tetapi apa nyana, maksud untuk lebih baik ternyata kondisinya tambah patal, dimana bendungan roboh, kondisi sidementasi tidak tambah baik.
Bila dulu masih bisa mengairi persawahan sekarang banyak persawahan yang kering lantaran tidak bisa diairi oleh irigasi sederhana ini.
Pihak warga sudah beberapa kali mengatasi persoalan   ini tetapi kondisinya tambah parah, cerita mencari ikan rame-rame hanya tinggal kenangan, oleh karena itu semua pihak berharap baik pemerintah maupun  masyarakat harus berusaha sekuat tenaga mengembalikan tabat basar tersebut.

Foto Bahari
————————-

maharu

maharu

maharu1

makrun

Makrun

paahar

Paahar

paiham

Paiham

pakamsi

Pakamsi

sawah

Sawah

sidi

Sidi Pa erna

adul

Adul Ubin

akram

Akram

hutan

Hutan

tabat

Tabat

tani
Tani

1

22.346

78

gambar tetuha kampung

——————————–

Nini Makasran (Alm)

painau

Pakacil Pa Inau (Alm)

iyus abah mini

Iyus atau Abah Mini (Alm)

pauhut

Pa Uhut (Alm)

painur amur

painur amur

ancau

Ancau

adul ubin

Adul Ubin

ubin atau binah

Ubin atau Binah

artum

Artum ali, tukang kesah

ancau

ancau, uwa ijak walangku, wan udin abah ifan

makrun

Pa Amir wan Makrun

ital

Ba Ulah/Ital

paupar

Pa Upar

raji

Imi Raji

kaba

Kawinan 1992 di Banjarmasin

kakaba

Pengurus Kakaba (Kerukunan Keluarga Balangan) di Banjarmasin tahun 70-an.

panggung

ibu2 kampung halamanku Desa Inan

kampung2

gue

kampung 112317mengawahmakanan kampung23456789DSC_5297DSC_5392IMG_8726IMG_8731

kawah

makan undangan

WAJAH2 KHAS KAMPUNG KU

———————————————-

123457sainabang jaji9nahliusitipan pa ijasidi bagung arhami

sidiuu

BERANGAN-ANGAN, INAN/PANGGUNG DESA WISATA

MATA PENCARIAN ORANG KAMPUNGKU

——————————————————-

karet

PERALATAN KHAS KAMPUNGKU

atang Atang pahat pahat menurih

tajaktajak sawah sulingansaringan banyu

1Pisau Larab

 2 Mata Balayung

 3 Cupikan4Tangguk

6Talabang Suar5parang bungkul

10Sumpit Iwak 11

PANORAMA ALAM KAMPUNGKU

12345679101112131415161729181920212223242526273031 323334363738394142434445464748495051langgar

PENGOBATAN ALA KAMPUNG

———————————————–

bekam

babakam

BALANGAN KABUPATEN TERMUDA DI KALSEL  

Berdasarkan hasil registrasi penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Balangan tahun 2005 sebesar 97.519 orang, mencakup sebanyak 26.972 rumah tangga yang tersebar di 159 desa.

Kabupaten Balangan dengan luas wilayah 1.878,30 km2 ini

memiliki kepadatan penduduk (population density) 52 jiwa per km2.

Rasio jenis kelamin adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan disuatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Angka rasio dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan.

Pada tahun 2005 rasio jenis kelamin ( sex ratio )

penduduk Balangan dibawah 100. Ini berarti penduduk perempuan lebih besar dibanding laki-laki.

Secara umum dalam kurun tahu 1994-2004 perkembangan penduduk Balangan mengalami pertambahan/meningkat. Pada tahun 2005 jumlah penduduk bertambah 306 jiwa (0,003 persen) dari 97.213 menjadi 97.519 jiwa

bupati.jpg Bupati Balangan, Ir Sefek Effendi saat bersama penulis ketika menghadiri Mauludan Rasul di Desa Panggung Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan.

Kabupaten Balangan terben-

tuk pada 08 April 2003 yang meliputi 6 kecamatan dengan jumlah desa sebebar seluruh kecamatan sebanyak 159 desa.

Dari jumlah desa yang ada terbagi atas dua klasifikasi yaitu : Desa Swakarya sebanyak 28 desa dan Desa Swasembada sebanyak 131 desa. Menurut klasifikasi LKMD terbagi atas klasifikasi II ada 6 desa dan klasifikasi III ada 153 desa.

pengalaman perjalanan masuk kawasan Pegunungan Meratus dengan Wakil Bupati, Drs.Ansharudin cukup menyenangkan, karena penuh dengan canda gurau dan saling adu cerita lucu.
Dalam perjalanan sekitar satu jam seakan tak terasa, padahal jalan yang ditempuh penuh liku, berlembah, di sisi jurang, jalan ada yang rusak parah berlumpur, ada yang berkerikil menuju Desa Hampang, Kecamatan Halong dalam kaitan peresmian SD Kecil di kawasan tersebut.

Penulis dan Wabup Balangan, Drs.Ansharudin

Sejarah berdirinya Kab balangan

———————————————

 Keinginan Masyarakat Balangan utuk menjadikan sebuah Kabupaten sendiri yang terlepas dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) telah dicetuskan sejak tahun 1963 yang ditandai dengan adanya Resolusi Pertama dan Resolusi Kedua pada tahun 1968.

 

Kedua Resolusi tersebut berakhir dengan kegagalan, karena kodisi politik yang bergejolak, masa transisi pergantian Pemerintahan Orde Lama dengan Pemerintahan Orde Baru, kuatnya sentralisasi sehingga aspirasi masyarakat bawah kurang mendapat perhatian, dan perundangan yang tidak memungkinkan.

Kuatnya arus reformasi pada pertangahan tahun 1997 yang ditandai runtuhnya Pemerintahan Orde Baru, sangat memicu kuatnya tuntutan daerah untuk melaksanakan desentralisasi. Semangat Desentralisasi ini telah melahirkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah sebagai pengganti UU No. 5 tahun 1974. Undang-Undang Nomor 22 ini telah memberikan kesempatan yang luas kepada daerah untuk melakukan pemekaran wilayah.

Terbukanya kesempatan untuk memekarkan wilayah ini merupakan momentum yang sangat tepat dan tidak disia-siakan oleh Panitia Penuntutan Kabupaten Balangan untuk kembali melakukan tuntutan berdirinya Kabupaten Balangan. Dalam Musyawarah Besar Masyarakat Balangan yang berlangsung pada tanggal 13 Mei 1999 berhasil disepakati sebuah Pernyataan dan Sikap Masyarakat Balangan yang sudah mengkristal. Dari pernyataan ini dicetuskan sebuah Resolusi Ketiga.

Kerja keras yang dilakukan Panitia Penuntutan Kabupaten Balangan berhasil mendapat dukungan politik dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Nomor 27 Tahun 2000 Tentang Persetujuan Menyalurkan Aspirasi Masyarakat Balangan untuk mendirikan Kabupaten Balangan.

Kemudian disusul dengan Rekomendasi Nomor 125/0889/Pem. dari Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara berupa dukungan penuh terhadap aspirasi masyarakat Balangan.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintan Nomor 129 tahun 2000 Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara membentuk Tim Peneliti sebagai persyaratan pembentukan dan pemekaran wilayah.

Hasil Tim Peneliti menunjukkan bahwa wilayah Balangan layak untuk dijadikan Kabupaten, yang hingga sekarang ini bernama Kabupaten Balangan dengan ibu kota Paringin. Merupakan salah satu kabupaten termuda di Kalimantan Selatan.

Saat ini Pemerintahan Kabupaten Balangan dipimpin oleh Bapak Ir. H.Sefek Effendi, ME.

grobak-sapi.jpg grobak sapi masih alat angkut vital di Balangan

Potensi Kabupaten Balangan

—————————-

Tujuan Pembangunan dibidang Pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani. Data statistik yang disajikan dalam hal ini dibagi dalam 6 sub sektor, yaitu :

1. Tanaman Bahan Makanan

2. Hortikultura

3. Tanaman Perkebunan

4. Peternakan

5. Perikanan dan

6. Kehutanan

Di Kabupaten Balangan pada tahun 2005 produksi padi sawah dan padi ladang sebesar 61.297

ton dengan luas panen 18.180 Ha

 

PERKEBUNAN

 Jika melihat geografis Kabupaten Balangan, maka tanaman perkebunan mempunyai peranan yang cukup besar dalam pengembangan pertanian di daerah ini. Jenis perkebunan yang potensial untuk menjadi tanaman andalan dewasa ini adalah Karet dan Kelapa Sawit…

 

Populasi ternak besar di kabupaten Balangan cukup potensi terutama ternak Sapi yaitu sebanyak 3.713 ekor.

Perikanan kolam atau ternak kolam di kab ini mencapai 46 rumah tangga dengan luas area 14.054 m2 dan ikan karamba sebanyak 35 rumahtangga.

Sektor Pertambangan berperan cukup besar dalam perekonomian suatu wilayah. Sektor ini merupakan salah satu sumber penerimaan devisa, terutama yang datang dari pendapatan ekspor hasil tambang. (sumber Pemkab Balangan)

titian.jpg titian sarana transportasi yang banyak ditemui di Balangan

data lain potensi Balangan

————————–

Kabupaten Balangan punya slogan Banua Sanggam. Dalam Bahasa Banjar, Banua berarti kampung atau daerah. Sedangkan Sanggam bermakna rasa persaudaraan yang kuat.

Tapi, Sanggam dalam slogan ini sebenarnya merupakan singkatan dari Sanggup Begawi Gasan Masyarakat. Artinya, Sanggup Bekerja untuk Masyarakat. Inilah slogan para pemimpin di daerah ini. [Slogan yang cuma gombal atau tidak, ya?]

Balangan memiliki luas wilayah 1.878,3 kilometer persegi. Delapan puluh tujuh persen diantaranya berupa daratan. Termasuk di dalamnya, hutan-hutan di Pegunungan Meratus. Sementara sisanya daerah perairan, yang terdiri dari sungai dan rawa-rawa. Ada sekitar 117 ribu jiwa yang berdiam di Balangan.

Terdapat delapan kecamatan di Balangan, yaitu Paringin, Paringin Selatan, Batumandi, Lampihong, Juai, Halong, Awayan dan Tebing Tinggi. Halong merupakan kecamatan terluas dengan 659,84 kilometer persegi. Dan Lampihong yang luas wilayahnya 96,96 kilometer persegi, menjadi yang terkecil.

Pusat kabupaten berada di Paringin. Monumen Perjuangan Rakyat Balangan dan Pasar Paringin menjadi landmark daerah ini.

Balangan terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Selatan. Dari Kota Banjarmasin, dengan jarak lebih kurang 215 kilometer di sebelah utara, Balangan dapat dicapai setelah melalui beberapa kota dan kabupaten di Kalimantan Selatan: Banjarbaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.

Kabupaten ini merupakan daerah transit. Balangan menjadi tempat persinggahan perjalanan antarkota dari Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah menuju Kalimantan Selatan, maupun sebaliknya.

Secara administratif, Kabupaten Balangan berbatasan dengan: Kabupaten Tabalong di sebelah utara, Kabupaten Kota Baru dan Kabupaten Paser (Kalimantan Timur) di bagian timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah di sebelah selatan, dan Kabupaten Hulu Sungai Utara di bagian barat. (diambil dari data Sahrudin)***

gambar Kota Paringin Tempor Doeloe

———————————————–

kota paringin

Paringin Tempoe doeloe

kantor camat (wdana) Paringin

Kantor Camar (Wedana) Paringin dulu

pasar paringin

pasar gatah paringin

Pasar Gatah (karet) Paringin